kucumbui wajah malam-malamku dengan mataku di hati, di benakku, diharapku... kau adalah malam Natalku yang tak pernah usai
kata-kata cinta begitu tulus dan sederhananya menggoyangkan tiang jiwa meluluhlantakkan segala karang rindu ini mengamuk di hati mengapung-apung di samudera kenangan menembus sang waktu yang telah berlalu rindu ini mengamuk di hati
lalu matilah segala kebahagiaan mati dibunuh duka yang dingin darah tak lagi mengaliri luka pun airmata kering seketika, hanya amarah yang tak terbantah ujung jalan itu gelap tak dapat ku tatap seperti awan mendung yang bergelantungan pada langit pagi seperti hitam yang pekat menggulitakan hati dan kau, masih saja menipu diri dengan seribu imaji
musim penghujan menemani musim angin mengintip badai di ketiak waktu kurindu puisi yang sahaja jujur dan sederhana teduhkan duka malam tak lagi bicara, diam beribu bisu ditikamnya cemas didekapnya jerih erat tabir gelap menghitam pekat bermain dusta, nista menjelma kabut tersesat kian dalam di belantara kepalsuan mencari cahaya terang jalan pulang, dihantam tetes hujan dan gigilnya angin musim pancaroba... *edited by Grace Gunawan, ("thanks GG...")
hening malam jadi sarang sepi saat senja, usai menghitung jejak kaki lelah tersandar di sudut jiwa tempat sejuta tombak tertancap, dan sejarah mencatat segala luka berharap fajar lekas datang agar sepi tak kian dalam berjanji pada pagi 'tuk kembali jejaki langkah-langkah sunyi meski belum habis lelah terpanggang pun luka masih menganga merah
aku ingin bicara tentang cinta pula rindu yang semakin sepi namun sajakku bisu, terdiam diantara bayang-bayangmu dan mataku yang kian letih
kembang semusim, mekar seusai hujan senja hari tumbuh dipadang hati yang gelisah karena tanya pancarkan wangi yang liar menghasut udara malam harumnya singgah sebentar dijiwa-jiwa yang resah terbitkan manis kenangan dideru waktu yang jemu tak ada esok untuk bercumbu, karena musim segera berganti seiring malam berganti pagi
kota ini seperti mati tadi pagi, seorang pemuda mati tembus peluru didada kiri tak ada harga diri, nyawa tak ada arti semanggi sembilan tahun silam langit gelap sebelum malam karena kami menolak bungkam lalu diganjar peluru dan meriam darah kami tumpah di semanggi berkalang tanah demi nurani demi satu tujuan tegaknya azasi adakah suara kami berarti? sembilan tahun telah silam pengecut bersembunyi dibalik dendam hati dan jiwa kami telah tertanam di semanggi, padang kurusetra yang kelam
ketika tak dapat kutahan untuk tak mengatakan bahwa: rindu ini begitu ngilu, tolong beritahu harus bagaimana, ketika hatiku penuh denganmu, agar tak kukirim badai keseberang lautan
biru laut, putih buihnya hingga ke pantai di langit matahari membakar kulit nelayanku menarik jalanya ketepian menghitam sudah kulit terbakar siang kelam nasibnya diujung jala yang tak lagi rapat, ikan tak lagi didapat sejenak melepas penat lelah keringkan keringat pada angin yang lewat karena airmata sudah tak lagi ada jauh pandang menerawang kelaut lepas tertambat pada kapal-kapal raksasa buas di sanalah ikan, di sanalah harap
deru ombak ditepi pantai bangunkan nelayanku dari lamunan menebar kembali jala harapan tak terasa hari telah senja
padang, 18 Oktober '07
sepinya waktu kala sendiri, kubunuhi tiap detiknya dengan mimpi mimpi-mimpi yang tak berujung dilangit kamar senyummu melambung
selamat malam, selamat tidur, mimpilah yang indah!
padang, 17 Oktober '07
ketika kau pergi, angin sepi tanpa kabar terbawa olehmu, semua kekanak-kanakan turut juga cinta yang diam-diam tumbuh dalam hati
ketika kau pergi, kau tinggalkan luka yang dulu tak kumengerti yang entah mengapa begitu membekas manisku, aku sungguh-sungguh kehilanganmu sungguh...
ketika kau pergi, kau genggam didadamu, marahmu yang begitu menyala, tapi tak jua surutkan rasa rasa yang mengintip ragu-ragu antara kau dan aku yang turut berlarian disetiap jejak langkah kecil kita yang bersemi ditengah derai tawamu
ketika kau pergi, kusimpan baik-baik kenangan itu, terbungkus rapi dikotak harapku, yang kian hari kian tergerus waktu
padang, 16 Oktober '07
parasnya tak lagi indah, rusak oleh waktu yang kian tua mereka milik siapa? tinggal ditrotoar-trotoar jalan berkubang dengan kotorannya sendiri bertarung melawan hidup yang degil setengah hidup setengah mati entahlah, mungkin memang telah mati terkurung raga yang kotor dan renta mengapa mereka ada? lidahku kaku, hatiku kelu haruskah mereka ada?
padang, 17 Oktober '07
temanku yang memang hitam dan yang bukan kambing hitam itu, terpaksa dijadikan kambing hitam demi nama dan kehormatan, demi kuasa. kambing hitam, pertahanan status quo yang ampuh, tentu oleh si kambing putih feodal diktator yang sekarang tak bisa apa-apa lagi kambing putih itu sudah terlalu tua dan pikun. tapi masih punya semangat yang tinggi,punya nafsu yang besar untuk berkuasa maka, oleh karena itu diperlukan banyak kambing hitam, untuk berjaga-jaga saja... dan sementara, aku disini.. masih dijalan ini, jadi saksi. coba bertahan dan melawan. ayo kawan, kita LAWAN!!! :SEDANG MELAWAN PENINDASAN:
kuselami pikiranmu, kucari esok untukku tak kutemukan kini, kuselami hatimu, timbul tanyaku adakah aku disana? Kubuka lagi hatiku Lalu kutengok ke dalam, Ah, disitu kau ada Gelisah yang tak tentu, Dikerling matamu yang syahdu Kembali kau sudutkan aku
menatap wajah malam sekali lagi, kali ini ada rindu yang sangat, rindu yang putus asa ia terasa begitu jauh cinta ini tak berujung, tak jua ada harapan hanya tatapan nanar dari sepasang mata yang bening basah coba kembalikan waktu pada kisah masa lalu pada awal perjumpaan, pada senyum yang pertama ia nikmati pada lembaran-lembaran cerita cinta yang terbelenggu lalu ia memilih untuk menolak memahami semuanya agar semua kisah ini tetap indah, agar cinta tetap terpahat dalam-dalam dilubuk hati dengan separuh nafas ia menahan isak tangis, ah, mengapa semua begitu sulit untuk dilepaskan? haruskah ?... lalu malam terdiam, merenung dalam-dalam pada malam yang merengkuh jemariku; cinta ini tak akan surut oleh waktu
 | menanti | Sep 14, '07 12:41 AM for everyone |
diam, menepi ditengah gemuruh roda hidup kadang terasa ngilu, risau menikam berkali-kali sekali ini saja, hanya sekedar menepi sandarkan jejak-jejak letih :penantian
Kawan, tidakkah kau cemburu pada ombak yang selalu bergerak beriak-riak hingga sampai ke pantainya tidakkah kau iri, pada angin yang berhembus bebas hingga sampai ke lembah-lembah apa jadinya jika bumi berhenti berputar adakah kau resah kawan?! jangan hentikan waktu, karena kau tak akan mampu, Jangan menunggu !!!
Berhenti berpikir berarti kematian, Berpangku tangan adalah, kesialan, Bodoh bukan kutukan, tapi pilihan Mencintai adalah hak maka ikhlaslah Jika kebebasan adalah tujuan, maka pengorbanan adalah keharusan Hari depan milik kita harap tak sia-sia
 | karam | Sep 12, '07 9:50 PM for everyone |
kemana perahu hendak berlayar, angin tak menentu tak satu dermaga dituju hutang rasa tak terbayar dalam luka ada bahagia terperangkap di sudut mata sang dara
| |